Kenangan 2021 dan Harapan di 2022 – Sebelum 2021 berlalu sebenarnya saya hendak menambah jejak di Kamar Kenangan ini. Namun apa daya, di penghujung tahun saya malah diserbu dengan deadline.

Kebiasaan nih, masih suka mengulur-ngulur waktu jadi begitulah. Padahal niatnya akhir tahun pengen nulis bebas  tapi lagi-lagi ada tuntutan kerjaan yang harus saya tuntaskan lebih dulu.

Alhasil tahun telah berganti baru deh saya sempatkan menulis kenangan tentang 2021 sekaligus menyambut tahun dimana umur saya akan menginjak kepala tiga.

Kenangan 2021

Jujurly, beberapa tahun belakangan ini saya mudah sekali lupa. Bahkan saya tidak ingat dengan banyak momen yang telah saya lewati, termasuk di tahun 2021.

Saya harus berpikir keras jika ingin mengingat sesuatu. Membuka galeri ponsel atau mengintip arsip blog kalau-kalau ada kenangan penting yang tertoreh di sana.

Sayangnya di 2021 kemarin tidak banyak kenangan yang saya abadikan. Galeri ponsel saya lebih dipenuhi dengan foto-foto produk. Pun blog utama saya lebih diwarnai dengan artikel bersponsor ketimbang organik, huhu.

Namun setidaknya masih adalah kenangan manis yang membekas di kepala.

Untuk itu sebelum penyakit lupa saya semakin parah, saya ingin mengabadikan beberapa kenangan yang menurut saya paling berkesan di sepanjang 2021.

Bertemu orang tua

Alhamdulillaah tahun 2021 Allah masih beri saya kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tua.

Sungguh, bisa bertemu dengan mereka saat kondisi pandemi seperti sekarang adalah nikmat yang luar biasa.

Tahu sendiri kan, gimana kondisi kala pandemi? Semua serba terbatas. Mau bepergian susah. Kondisi saya juga belum memungkinkan untuk bepergian jauh dengan membawa duo toodler.

Alhasil rencana pengen pulkam ke rumah orang tua di Papua tepatnya di Serui, Kepulauan Yapen tidak kunjung terwujud.

Meski demikian orang tua saya memang berencana untuk mengantar adik saya masuk ke salah satu pondok pesantren yang ada di Makassar.

Qadarullaah, Allah lancarkan urusan dan perjalanan orang tua dan adik ke Sulsel hingga meski belum bisa mudik tapi saya masih bisa bersua dengan mereka di sini.

Pindah rumah lagi

Seriously. Setelah akhirnya pindah ke rumah pribadi tahun 2020 kemarin saya pikir saya dan keluarga nggak bakal hidup nomaden lagi.

Namun siapa sangka, belum genap dua tahun saya dan keluarga harus hijrah lagi. Hijrahnya nggak terlalu jauh sih, masih satu Provinsi, hanya beda Kabupaten. Masih tetanggaan juga dengan Kota Makassar.

Kalau sebelumnya kami berdomisili di Kabupaten Gowa, sekarang tinggalnya di Kabupaten Maros. Dekat banget dengan Rammang-Rammang, tahu kan?

Itu lho tempat wisata Karst yang hits di Sulawesi, yang tahun kemarin  sempat didatangi  oleh Sandiaga Uno dan Atta Halilintar.

Orang-orang dari luar Sulawesi juga banyak yang pengen mengunjungi Karst terbesar ketiga di dunia ini.

Sayangnya saya dan keluarga yang tinggalnya dekat malah belum pernah menjelajahi Rammang-Rammang cuma sering lewat di depan pelabuhannya doang. Upst.

Oh ya alasan kami pindah kali ini, lagi-lagi ya karena urusan kerjaan pak Suami. Jujurly rumah pribadi kami jaraknya lumayan jauh dari tempat suami bekerja.

Tinggalnya di Gowa kerjanya di Maros. Pulang kantor jam 5 sore dan baru sampai di rumah sekitar jam 7 malam. Besok paginya suami masih harus berangkat lagi pagi-pagi buta.

Kebayang nggak capek perjalanan yang doi tempuh sehari-hari? Sudah capek di kantor, capek di perjalanan pula.

Jadi ya sudahlah, sekalinya ada tawaran buat tinggal di perumahan karyawan yang lokasinya dekat banget dengan tempat kerja suami, hayoo lah.

Daripada suami harus menempuh perjalanan jauh setiap hari kerja, mending kita pindah rumah saja ke lokasi yang dekat dengan kantornya.

Lagipula rumah yang ditempati tinggal  di Maros gratiss. Namanya juga perumahan karyawan, hehe.

Setidaknya dengan numpang tinggal di perumahan milik perusahaan ini kami bisa hidup lebih hemat (hemat uang transpor, listrik dan air :D) biar sekaligus bisa menabung juga buat renovasi rumah pribadi kami yang sementara dikontrakkan. 😀

Gajian AdSense dan dapat gaji dolar

2021 blog utama saya pecah telur. Senangnya. Maa syaa Allaah. Walau gaji AdSense yang saya dapatkan tidak seberapa dibanding penghasilan yang saya dapatkan dari job sponsored post, content placement maupun review produk tetap saja ada kepuasan tersendiri ketika mendapat transferan dari Google.

Apalagi butuh waktu selama 2 tahun lebih beberapa bulan baru saldo AdSense saya bisa cair. Saya masih ingat berapa pendapatan AdSense saya dalam setahun pertama.

Setahun lho dan nyampe Rp100.000 saja nggak. Ngenes banget, kan? Eh tapi tidak heran sih soalnya sehari-hari saldo AdSense saya cuma bertambah sekian rupiah doang.

Makanya saya sempat pesimis dan nggak terlalu berharap bisa dapat gaji dari Google. Namun siapa sangka di tahun kedua, AdSense saya mulai membuahkan hasil hingga akhirnya cair dan masuk ke rekening saya.

Oh ya, selain gaji dari AdSense di 2021 saya juga berkesempatan dapat gaji dolar yang nilainya itu sebesar batas maksimum saldo AdSense bisa cair.

Yup, 100$.

Untuk mendapatkan 100$ dari AdSense saya membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun sedangkan gaji dolar yang saya dapatkan dari aplikasi bernama Intellifluence cairnya hanya hitungan hari. 1 artikel dihargai 100$. Wow banget, kan?

Bikin blog wordpress self hosted

Tahun 2021 menjadi tahun bersejarah dalam perjalanan blogging saya karena akhirnya saya tertarik juga untuk mencoba ngeblog di wordpress self hosted.

Berawal dari tawaran Bang Qbenk kepada emak-emak seomoms regional SulbaNusra yang berminat ngeblog di WordPress.org.

Beliau menawarkan diri untuk urus hosting. Tidak hanya itu beliau juga menawarkan hosting dengan harga yang murmer. Murmer karena dibayar patungan, hehe.

Seketika itu juga otak perhitungan saya beraksi. Kapan lagi coba saya bisa menikmati ngeblog di WordPress dengan cukup membayar biaya hosting murah.

Ditambah lagi, saya memang awam banget sama yang namanya WordPress. Jadi sekalinya ada tawaran gitu saya langsunh terima dong. Terima beres, hehe.

And finally saya tahu juga gimana rasanya ngeblog di WordPress. Pun bisa membandingkan sendiri antara ngeblog di blogger dan WordPress. .

Kalau ditanya mana yang lebih nyaman? Sejauh ini sih masih tetap nyaman ngeblog di Blogspot, mungkin karena sudah dari sononya pake platform blogger kali ya.

Walau harus saya akui ngeblog dengan WordPress memang lebih praktis, nggak perlu pusing dengan yang namanya kode-kode html. Cukup pasang plugin saja, beres deh.

Karena alasan itu juga akhirnya di penghujung 2021 kemarin saya putuskan untuk beli hosting sendiri (bukan patungan) dan buat blog baru lagi. Mumpung lagi promo walau biaya perpanjangannya nanti lumayan juga.

Intinya kalau mau ngeblog di WordPress memang butuh modal banyak. Tapi yah itung-itung sebagai investasi. Semoga nanti bisa membuahkan hasil jugalah seperti kakaknya, hehe.

Ternak blog

Cukup 1 blog, yang 1 itu saja masih keteteran ngurusnya apalagi kalau 2, 3 4 blog dan seterusnya.

Sumpah, sekitar lima tahun lalu saat memutuskan untuk beralih ke blog dengan Top Level Domain (TLD) saya nggak adai pikiran sama sekali mau punya blog lebih dari 1.

Keinginan untuk nambah blog itu baru muncul tahun 2020. Itu pun saya cuma sekadar ikutan doang, beli domain dan bikin blog baru tapi setelah itu ditelantarkan.

Baru tahun 2021 kemarin saya tergerak mengurus blog kedua saya yang sudah hampir setahunan jadi sarang laba-laba.

Bahkan bukan cuma itu. Kenyatannya saya tergerak lagi untuk menambah blog. Tidak tanggung-tanggung di tahun 2021 kemarin saya beli 4 domain (termasuk domain kamarkenangan.com ini) which is ada 4 blog baru yang harus saya kelola.

Namun punya banyak blog di zaman sekarang bukan hal yang mengherankan lagi. Toh, sudah banyak blogger juga yang ternak blog. Bahkan ada yang blognya mencapai belasan hingga puluhan.

Jadi kalau jumlah blognya masih hitungan satuan yah belum seberapa cuma bagi saya untuk saat ini itu sudah lebih dari cukup.

Entahlah ke depannya, apakah bakal ditambah lagi atau malah dikurang. Kita lihat saja nanti, hehe.

Traveling di masa pandemi

Sama seperti tahun 2020, di 2021 juga saya menghabiskan lebih banyak waktu di rumah saja. Meski demikian bukan berarti saya dan keluarga nggak pernah jalan-jalan.

Even traveling kami tipis-tipis saja, hanya di dalam kota. Waktu masih di Gowa, kami sempatkan jalan-jalan ke Puncak Bollangi, tempat wisata yang disebut-sebut menyerupai Raja Ampat. Lokasinya tidak begitu jauh dari rumah.

Pindah ke Maros, makin banyak lagi sebenarnya tempat wisata yang bisa kami kunjungi, seperti Air Terjun Bantimurung, Rammang-Rammang dan Leang-leang.

Bukan kebetulan ketiga tempat wisata yang terkenal di Maros itu lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Namun selama pindah ke Maros kami malah belum pernah ke sana, padahal dekat.

Yang ada suami malah mengajak saya dan anak-anak pergi ke Pantai Maros yang lokasinya pun kami tidak tahu.

Well, seumur-umur saya kalau ke Pantai nggak pernah melewati medan yang terjal karena mudah didapat. Bahkan waktu tinggal di Barru, lokasi pantainya tepat berada di belakang rumah. Bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Nah, kalau di Maros ini saya beneran nggak tahu pantainya di mana. Malah sempat berpikiran di Maros nggak ada pantai. Tapi kata suami ada.

Untuk membuktikannya, di suatu hari Ahad, tanpa perencanaan sama sekali, doi ngajak saya dan anak-anak ke Pantai Maros hanya dengan berbekal Google Maps.

Mulailah kami melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Semakin terasa jauh karena kami pun tidak tahu dimana persisnya pantai yang hendak kami kunjungi itu. Sempat tersesat pula.

Rupanya pantai Maros yang jadi tujuan kami itu letaknya tersembunyi. Harus melewati jalan setapak yang jeleknya minta ampun.

Duh, pokoknya itu pertama kali saya traveling ke Pantai dengan bersusah payah dan banyak dramanya, haha. Untung anak-anak nggak ada yang rewel.Bagi saya itu salah satu traveling yang berkesan di 2021.

Kejutan tak terduga di akhir tahun

Satu lagi kenangan yang tak akan terlupakan di 2021 dan menjadi kejutan yang sungguh tidak terduga.

Kejutan apakah itu? Hayoo ada yang  bisa tebak? Apa ya kira-kira?

Apapun itu mohon doanya saja ya yang terbaik, hehe. In syaa Allaah nanti kalau tiba waktunya dan ada kesempatan akan saya abadikan cerita tentang kejutan itu di Kamar Kenangan ini.

Harapan di 2022

Time flies so fast. Pertengahan tahun 2022 usia saya akan menginjak kepala 3. Usia yang tidak muda lagi even sampai sekarang saya merasa seperti masih berada di usia 20-an awal, hehe.

Ya, tak terasa sudah hampir 30 tahun saya hidup di dunia. Pencapaian apa sih yang sudah saya dapatkan? Sudah berapa banyak bekal menuju akhirat yang berhasil saya kumpulkan?

Saya sadar, saya tidak akan selamanya hidup di dunia ini. Karena itu harapan utama saya di tahun ini adalah bisa semakin dekat dengan Tuhan. Semakin rajin beribadah dan on time dalam melaksanakan shalat lima waktu

Setiap tahun juga saya selalu berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih baik dari diri saya sebelumnya. Baik sebagai, seorang hamba, seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang anak.

Tahun ini juga saya ingin lebih fokus mengurus anak-anak. Menyediakan waktu lebih banyak untuk menemani mereka sepenuhnya.

Bukan hanya menghadirkan raga namun pikiran saya justru lebih tersita dengan seabreg pekerjaan lain.

Selain itu, saya juga ingin tetap produktif di rumah, dengan menghasilkan lebih banyak postingan organik. Bisa dapat penghasilan blog lebih banyak juga dari tahun-tahun sebelumnya.

Itu saja sih harapan saya di 2022. Tidak muluk-muluk. Saya juga tidak ingin terlalu menargetkan banyak hal tapi ujung-ujungnya hanya sekadar wacana.

Demikian cuap-cuap saya tentang kenangan 2021 dan harapan di 2022. Intip juga yuk cerita Kak Diah Alsa yang bertajuk Terima Kasih 2020, Halo 2022.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Salam,