Pantai Kuri Caddi Pantai Tersembunyi di Maros

Pantai Kuri Caddi demikian nama pantai yang saya, suami dan anak-anak mendadak kunjungi pada 25 Oktober 2021.

Eh sudah lumayan lama ternyata saya sekeluarga jalan-jalan ke sana dan saya baru sempat menuliskannya sekarang, ckck.

Nggak papa ya, toh kenangan saat berkunjung ke pantai tersembunyi di Maros itu masih melekat kuat dalam ingatan saya.

Ya bagaimana tidak melekat kuat coba? Saya ini anak Pulau. Lahir dan besar di Kepulauan Yapen. Orang tua pun asalnya dari Kabupaten Kepulauan. Papa asal Pangkajene Kepulauan sementara mama orang asli Kepulauan Selayar.

Bagi anak Pulau seperti saya mengunjungi pantai sudah menjadi hal yang biasa. Waktu kecil nyaris tiap pekan malah saya rekreasi di pantai.

Bahkan setelah menikah saya dan suami sempat dua tahun tinggal di kontrakan dekat pantai. Lokasi pantainya persis berada di belakang kontrakan kami. Tinggal jalan kaki tak sampai semenit pun hamparan pantai sudah nampak di depan mata.

Makanya waktu berkunjung ke Pantai Kuri Caddi saya syok banget. Seumur-umur baru kali itu saya berkunjung ke Pantai yang medannya luar biasa bukan main.

Jika saat itu saya dalam keadaan hamil mungkin saya sudah brojol duluan kali ya, hehe.

Dan kalau pun suami pengen ajak saya dan anak-anak jalan-jalan ke sana lagi mungkin saya akan berpikir 1000 kali dulu jika jalanan menuju ke sana masih seperti saat pertama kami berkunjung. Sungguh ku tak kuat, hehe.

Berkunjung Mendadak ke Pantai Tersembunyi di Maros

pantai tersembunyi di maros
Tampak lempengan batu di bibir Pantai Kuri (dokpri)

Entah gerangan apa, pagi itu suami tiba-tiba mengajak saya dan anak-anak rekreasi ke pantai yang sebelumnya sudah pernah dia singgung beberapa kali.

Karena dasarnya saya suka jalan-jalan lebih-lebih Zhaf dan Fath jadi tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan ajakan suami.

Berbekal Google Maps dengan menaiki kendaraan roda dua kami langsung berangkat menuju pantai yang dimaksud.

Karena perginya mendadak dan niatnya juga cuma mau jalan-jalan jadi kami nggak ada persiapan sama sekali. Nggak bawa bekal makanan maupun baju ganti.

Eniwei sebenarnya saya sempat heran waktu suami cerita mengenai pantai di Maros. Herannya karena saya sudah sering melewati Kabupaten yang bertetangga dengan Makassar ini tapi tidak pernah melihat tanda-tanda ada pantai di Maros.

Teman-teman saya yang asli orang Maros juga nggak ada yang pernah cerita kalau ada wisata pantai di tanah kelahiran Ustad Syam ini.

Paling kalau ngomongin destinasi wisata Maros saya tahunya ya cuma Air Terjun Bantimurung, Rammang-Rammang atau Leang-Leang. Tapi kalau pantai?

“Emang ada pantai di Maros?” Begitu celetuk saya dengan ekspresi terkejut saat suami pertama kali menyinggung soal pantai di daerah tempat tinggal kami sekarang

“Iya. Kata temanku begitu. Lokasinya tidak jauh dari Kota Maros. Kalau libur nanti saya ajak ki dengan anak-anak jalan-jalan ke sana”

Suami akhirnya menepati janjinya. Mengajak kami berkunjung ke pantai yang bahkan dia sendiri belum pernah datangi.

Perjuangan Menuju Pantai Kuri Caddi

Suasana eksotis pantai Kuri
Suasana eksotis pantai Kuri Caddi Maros dengan gugusan batu di bibir pantai (source : celebes.co/Credit: Flickr.com @abdoel_rahman)

Jam sudah menunjukkan lewat pukul 8 pagi saat kami meninggalkan rumah. Cuaca pagi itu sangat cerah, mendukung perjalanan kami menuju pantai yang di peta tertera nama Kuri Caddi.

Selain kata temannya suami hanya mengandalkan Google Maps untuk membawa kami ke pantai tersebut.

Rute tercepat yang bisa kami tempuh dari rumah ke pantai tersebut adalah 31 km atau memakan waktu 1 jam.

Jika sesuai dengan perhitungan di Google Maps berarti sekitar jam 9 lewat atau paling lambat jam 10 kami sudah tiba di Pantai Kuri Caddi.

But you know what, kami baru tiba di pantai tersebut saat waktu sudah menunjukkan lewat pukul 11 bahkan hampir jam 12 siang kalau nggak salah ingat. Saking lamanya kami dalam perjalanan, huhu.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu hanya sejaman itu jadi molor hingga lebih dari 2 jam gara-gara kami nggak percaya sama Google Maps dan jadinya malah salah jalan aka tersesat, wkwkw.

Ceritanya di tengah perjalanan Google Maps sempat ngasih petunjuk untuk belok kiri. Tapi masalahnya pas di lokasi dimana Google suruh belok itu kami sama sekali tidak lihat ada jalan yang bisa dilewati di situ.

Jadilah suami memilih untuk melaju terus ke depan, semakin jauh dari tempat dimana seharusnya kami belok.

Barangkali di depan sana ada alternatif jalan lain yang bisa ditempuh. Begitu pikir suami. Tapi nyatanya zonk. Si Google malah suruh kami putar balik.

Baiklah kami terpaksa putar lagi dan berhenti di tempat dimana Google nyuruh kami belok. Oalah ternyata ada lorong kecil di situ. Pantesan waktu dilewati nggak dilihat karena lorongnya itu seperti lorong yang biasa hanya dilewati para pejalan kaki.

Lorong tersebut bisa dibilang seperti jalan pintas dan ada jembatan yang perlu kami seberangi. Setelah melewati jembatan tersebut barulah kami kembali bertemu dengan jalan beraspal.

Nah, ternyata jalan yang dimaksud Google itu berada di seberang jalan yang membuat kami harus putar balik. Keduanya dipisahkan oleh bentangan sawah.

Cuma sepertinya memang nggak ada rute yang menghubungkan dua jalan tersebut kecuali lorong yang ditunjuk Google.

Setelah kembali ke jalan yang benar sesuai petunjuk Google Maps saya merasa lega karena mengira tidak lama lagi kami akan segera sampai ke pantai tujuan.

Namun perasaan lega itu seketika berubah resah manakala saya tidak melihat ada tanda-tanda pantai di jalan yang kami tempuh. Padahal dari arahan Google kurang dari 30 menit lagi kami akan segera sampai tapi mana pantainya.

Kalau sudah dekat pantai kan biasanya suasananya berbeda ya. Setidaknya ada banyak pohoh kelapa yang tumbuh di pinggir jalan, anginnya juga bertiup sepoi-sepoi, lha ini?

Yang ada hanyalah hamparan sawah. Pantainya di mana? Sungguh ku makin tak sabar dan penasaran, apakah benar ada pantai di Maros atau hanya khayalan suamiku saja, wkwk.

Perjalanan pun terasa semakin panjang dan seolah tak berujung. Mana matahari semakin tinggi pula. Teriknya itu lho, bikin gerah. Untung selama perjalanan anak-anak nggak ada yang rewel.

“Kalau masih jauh mending kita pulang saja deh” keluh saya nyaris pasrah. Masalahnya perjalanan kami sudah makan waktu berjam-jam tapi pantai yang mau kami datangi tak kunjung nampak.

Sabar. Dikit lagi. Kata Google kan tinggal beberapa menit lagi kita sampai.

Yap, kami akhirnya tiba juga di Pantai Kuri Caddi dengan berpeluh keringat. Tapi itu baru di pintu gerbangnya, pemirsah. Rintangan selanjutnya baru akan dimulai.

Kami masih harus melanjutkan perjalanan kurang lebih 3 km dari gerbang ke pantai. 3 km itu artinya jarak kami ke pantai sudah sangat dekat. Seharusnya begitu ya.

Tapi demi melihat kondisi jalannya yang hancur parah dan bebatuan jarak 3 km itu seketika terasa jauh. Badan saya langsung lemas.

Yakin mau lewat jalan ini? Tanya saya ke suami. Kami sempat berhenti sejenak, menimbang-nimbang mau melanjutkan perjalanan atau putar balik.

Pada akhirnya suami memutuskan untuk lanjut.

Sayang kalau mau putar balik, kita sudah jauh-jauh datang ke sini. Belum ketemu pantainya masa mau balik. Pantang mundur dong.

Baiklah, saya cuma bisa pasrah. Selama anak-anak anteng it’s oklah. Sepeda motor yang dikendarai suami itu pun melaju menempuh medan yang tak biasa.

Sepanjang menempuh jalan yang rusak itu saya cuma bisa menghibur diri dengan ketawa. Sebenarnya pengen sebel sih sama suami, bisa-bisanya dia bawa kami ke tempat wisata yang dia sendiri belum tahu kondisinya gimana.

Eh tapi itu juga yang bikin saya ngakak dan merasa lucu. Saya yakin kalau dia tahu kondisi jalannya rusak parah, belum tersentuh aspal nggak mungkin dia mau ajak saya dan anak-anak ke pantai yang medannya super berat.

Ya kali daripada jauh-jauh ke pantai yang aksesnya susah kebangetan mending rekreasinya ke Bantimurung atau ke Rammang-Rammang saja, lebih dekat dari rumah. Tapi karena sudah terlanjur ya mau gimana lagi.

Tuh kan, gara-gara medannya berat, 3 km yang idealnya bisa ditempuh sekitar 3-5 menit dengan kendaraan roda dua membuat perjalanan kami makin lama.

Mana ada banyak jembatan kayu (sekitar 8 atau 9 jembatan, tepatnya saya lupa) yang juga harus kami seberangi dengan hati-hati karena kondisinya rusak dan mulai rapuh. Benar-benar tantangan banget.

Well, sepertinya belum separuh jalan melewati gerbang saya sudah kepikiran mau balik saja. Nggak tahan dengan jalan bebatuannya yang bikin perjalanan nggak nyaman, tapi beneran tanggung banget kalau balik pulang.

Ya Allaah baru kali ini saya rasakan mau pergi ke pantai saja medannya gitu amat. 

Seriously! Itu adalah pengalaman pertama saya ke pantai yang rasanya seperti naik gunung. Mungkin pengibaratan saya agak berlebihan ya. Even saya belum pernah naik gunung tapi saya tahu kok medan yang ditempuh saat mendaki itu berat.

Sungguh perjalanan saya dan keluarga menuju pantai Kuri Caddi benar-benar penuh perjuangan. Sudah tersesat, lama di perjalanan, mandi terik matahari, tempuh jalan yang rusak pula. Lengkap sudah.

But finally, perjuangan susah payah kami kala itu akhirnya terbayar setelah berhasil melihat pemandangan eksotis Pantai Kuri Caddi dengan hamparan pasir putih dan batu karangnya.

Ya, ternyata apa yang dibilang suami benar. Bukan khayalannya semata. Di Maros memang beneran ada pantai. Hanya saja lokasinya tersembunyi. Makanya saya menyebutnya Pantai Tersembunyi di Maros.

Tentang Pantai Kuri Caddi

destinasi wisata pantai maros
Menikmati pemandangan di Pantai Kuri Caddi (dokpri)

Lokasinya di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Destinasi wisata ini ternyata cukup dekat dengan Kota Makassar lho. Hanya berjarak sekitar 7 km dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Karena jaraknya yang begitu dekat sehingga dari ufuk kejauhan kita bisa lihat pemandangan Kota Daeng terutama gedung-gedung pencakar langitnya.

Well, menurut saya pantai Kuri Caddi memiliki pemandangan yang cukup unik. Tidak seperti pantai pada umumnya karena selain dihiasi dengan hamparan pasir putih terdapat juga bentangan bebatuan yang persis berada di bibir pantai.

Tidak ada yang tahu persis mengapa bisa ada lempengan batu yang terbentuk di bibir pantai Kuri sementara lokasinya jauh dari area pegunungan.

Namun masyarakat setempat meyakini bahwa gugusan bebatuan yang unik tersebut berasal dari magma gunung merapi dan telah ada sejak ribuan tahun silam.

Suasana di pantai ini masih sangat asri dan alami. Saya juga kagum waktu datang ke pantai ini terlihat bersih dan jarang ditemui sampah plastik.

Dari informasi yang saya dapat, masyarakat yang tinggal di pantai Kuri memang sangat menjaga lingkungannya baik yang di darat maupun di laut.

Mereka yang notabene mata pencahariaannya sebagai nelayan dan tinggal di sekitar pesisir Pantai Kuri pun saking tinggi kepeduliannya terhadap lingkungan lebih memilih untuk menangkap ikan dengan alat yang ramah lingkungan agar tidak merusak terumbu karang dan biota laut. Wah, patut dicontoh, ya?

Beidewei, sebenarnya waktu yang paling bagus untuk datang ke pantai ini di waktu pagi sebelum matahari terbit atau sore sebelum matahari terbenam.

Pasalnya pemandangan sunrise dan sunset di pantai Kuri Caddi sangat memukau. Eh tapi meskipun datangnya tengah hari saya tetap bisa menikmati pesona pantai ini.

Suka juga dengan suasana pantainya yang tidak terlalu ramai. Pas banget jadi destinasi wisata bareng keluarga saat pandemi karena belum banyak orang yang berkunjung ke pantai ini.

Mungkin kalau akses jalannya sudah bagus baru saya pertimbangkan deh buat menikmati sunset bareng keluarga di pantai Kuri.

main pasir di pantai maros
Zhaf dan Fath bermain pasir di Pantai Kuri (dokpri)

Oh ya, sebelum pulang suami sempat bertanya sama salah seorang warga yang tinggal di sana mengenai akses jalannya, apa ada jalan lain selain jalan bebatuan yang rusak itu?

Jawabannya tidak ada. Cuma itu satu-satunya jalan yang bisa dilewati untuk sampai ke pantai Kuri begitu pun kalau mau balik.

Lalu suami lanjut bertanya, kenapa jalannya tidak diperbaiki? Apa tidak mendapat perhatian pemerintah?

Ternyata akses jalan rusak dan bebatuan yang sering dilewati warga dan para pengunjung itu milik pengusaha bukan pemerintah sehingga pemerintah setempat tidak memiliki wewenang untuk memperbaiki jalan tersebut.

Namun belakangan kabar yang saya dengar, Pemerintah Kabupaten Maros saat ini tengah merencakanan pembangunan wisata di Kawasan Kuri Caddi termasuk pembangunan jalan yang memadai.

Kita doakan saja ya, semoga pemerintah segera mewujudkan rencananya itu sehingga baik warga setempat maupun pengunjung tidak mengalami kesulitan lagi saat akan memasuki atau keluar dari kawasan Pantai Kuri Caddi.

Tips Traveling ke Tempat Wisata yang Belum Pernah Dikunjungi

pemandangan pantai kuri
Suasana pantai Kuri Caddi di siang hari (dokpri)

Berdasarkan pengalaman yang sudah saya ceritakan panjang lebar di atas ada sedikit tips traveling nih buat kamu yang tertarik mau datang ke pantai Kuri Caddi atau tempat wisata lainnya yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya

  • Jangan pergi rekreasi tanpa persiapan. Persiapan sebelum pergi rekreasi itu penting, apalagi dengan kondisi punya anak balita. Sekalipun mendadak tetap harus persiapkan dulu. Minimal bawa bekal minuman dan makanan. Kalau nggak sempat siapkan, beli makanan jadi bisa jadi alternatif. Sedangkan untuk minuman lebih baik bawa tumbler atau botol sendiri dari rumah.
  • Percaya Google Maps dan jangan malu bertanya. Manusia saja bisa salah apalagi produk digital buatan manusia. Tapi tidak ada salahnya mempercayai Google Maps kalau memang kondisinya kamu belum pernah mengunjungi Pantai Kuri Caddi. Pastikan kamu jalan dengan arahan yang diberikan Google. Misal ada arahan yang membuat kamu bingung sebaiknya kamu berhenti dulu dan bertanya kepada warga setempat. Dengan begitu kamu bisa terhindar dari insiden tersesat yang bisa menghabiskan waktu di jalan.
  • Cari tahu info terkait destinasi wisata yang ingin kamu kunjungi. Jangan pergi ke tempat wisata tertentu dalam keadaan buta. Minimal kamu punya gambaran sedikit mengenai tempat wisata tersebut. Sekarang kan zaman sudah canggih, kamu biss manfaatkan internet untuk mencari tahu kondisi tempat wisata incaran kamu. Aksesnya jalannya gimana? Bagus nggak?Pemandangannya seperti apa? Memuaskan atau tidak? At least dengan adanya gambaran tersebut bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu.

Penutup

Senja di Pantai Kuri Caddi Maros
Senja di Pantai Kuri (source : celebes.co)

Setelah dirasa cukup menikmati indahnya Pantai Kuri Caddi, kami memutuskan pulang. Kayaknya hanya sekitar sejamanlah kami di pantai. Perjalanannya itu yang memakan waktu sampai berjam-jam, wkwk.

Mana pulangnya kami hampir tersesat lagi. Maksud hati mau lewat jalan yang lebih dekat (bukan jalan yang kami lewati saat pergi) eh malah nyasarnya sampai di Makassar.

Untungnya dekat perbatasan Makassar-Maros, alhasil pulangnya kami lewat jalan poros.

Benar-benar perjalanan yang luar biasa hari itu. Walau melelahkan dan sempat mengeluh tapi saya nggak nyesal kok.

Justru itu menjadi salah satu pengalaman berkesan dalam hidup saya. Pertama kali berkunjung ke pantai yang medannya berat.

Nah, kalau kamu termasuk blogger lifestyle dan traveling yang suka tantangan, ketika berkunjung ke Makassar atau Maros tidak ada salahnya mampir menikmati nuansa eksotisnya Pantai Kuri Caddi.

Lelahnya perjalanan pasti akan terbayarkan setelah kamu sampai di sana. Apalagi kalau datangnya saat senja atau sebelum matahari terbit. Kamu bisa sekaligus menikmati sunset atau sunrise.

Mau nginap di sana juga boleh karena sudah ada fasilitas penginapan yang disediakan warga setempat. Bagaimana, tertarik? Boleh dong sharing tanggapan kamu di kolom komentar.

Sekian cerita kenangan saya kali ini.  Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar