Surat untuk sahabat ini saya persembahkan untuk salah satu sahabat terbaik yang pernah ada dalam hidup saya.

Saya ingat, saya pertama kali bertemu dengannya saat saya baru akan mengenakan seragam biru-dongker, baru lulus  SD.

Kami pertama kali berjumpa di Panti Asuhan Muhammadiyah. Saat itu saya dan dia sama-sama ikut pengkaderan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) yang sekarang telah berganti nama menjadi Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM).

Saya tidak ingat persis bagaimana mulanya sampai kami akhirnya bisa menjalin persahabatan. Kami dekat sebagai sahabat begitu saja. Entahlah, saya juga heran kenapa kami bisa bersahabat.

Padahal kami tidak seumur dan tidak sejenis kelamin. Umurnya tiga tahun lebih tua di atas saya dan yah dia adalah seorang laki-laki.

Makna Sahabat

Bagi saya sahabat adalah orang terdekat yang memahami diri kita dengan lebih baik, yang bersamanya kita merasa nyaman.

Nyaman dalam artian ketika kita mengalami masalah atau apapun itu kita bebas dan tidak sungkan mencurahkan apa saja padanya.

Tentu saja sahabat yang baik akan memasang telinga, menjadi pendengar setia. Lalu dia akan menghibur, berusaha membantu dengan memberi solusi tanpa menghakimi.

Sahabat, dia adalah sosok yang akan selalu hadir dalam hidup kita baik dalam keadaan suka maupun duka. Dia adalah orang yang akan duduk menangis bersama saat kita dirundung duka. Dia pula yang akan sumringah dan tertawa bersama saat kita dihujam rasa bahagia.

Dia adalah sosok yang tidak akan pernah meninggalkan kita walau waktu terus berlalu dan jarak semakin terbentang jauh.

Semasa duduk di bangku sekolah saya punya  empat sahabat perempuan, 1 di SD, 1 di SMP, dan bertambah 2 di SMA. Namun seiring waktu berlalu, satu per satu dari mereka pergi meninggalkan saya.

Kami bersahabat hanya karena kami dekat. Hanya karena kami satu sekolah, satu kelas.

Setelah berjarak, entah kemana jalinan persahabatan itu. Saya pikir yang namanya sahabat akan selalu menjadi sahabat. Di mana pun dan kapan pun itu. Nyatanya persahabatan yang saya jalin dengan sesama jenis tidak bertahan lama.

Lucunya malah persahabatan lawan jenis yang saya jalin bersama dia yang lumayan awet. Bertahun-tahun lho. Hitung saja dari masa saya masih SD hingga saat kami baru saja membina rumah tangga masing-masing.

Sekarang?

Persahabatan Lawan Jenis, Mampukah Bertahan?

Kamu akan tetap menjadi sahabatku. Sampai kapan pun itu. Tidak peduli walau nanti kita menikah dan membina rumah tangga dengan jodoh kita masing-masing, sampai kita beranjak tua. Sampai kita mati. Kita akan tetap menjadi sahabat. Tidak akan ada yang berubah. Kita adalah sahabat selamanya.

Itu adalah ikrar persahabatan kami, saat kami masih sama-sama melajang. Kami tidak tahu bagaimana takdir persahabatan kami di masa depan tetapi kami sama-sama yakin, tidak akan ada yang berubah. Kami akan tetap menjadi sahabat.

Namun, hei lihatlah. Apa arti ikrar persahabatan itu kalau nyatanya kita tidak lagi dapat bersahabat seperti dulu. Semua telah berubah dan persahabatan kita kini tinggal kenangan.

Ya, persahabatan kami tinggal kenangan. Tidak ada kata putus dalam sebuah persahabatan. Dia masih tetap saya anggap sebagai sahabat pun (mungkin) sebaliknya. Namun diantara kami tidak ada lagi yang namanya jalinan persahabatan.

Jalinan itu hilang begitu saja seiring dengan hilangnya komunikasi diantara kami. Seingatku, terakhir kami berkomunikasi Ramadan 2018 lalu.

Dia meneleponku tanpa sepengetahuan istrinya. Dia bilang istrinya akan cemburu jika tahu dia menghubungi saya.

Saya mengangkat teleponnya pun tanpa sepengetahuan suami yang saat itu tengah di kantor.  Namun selepas suami pulang saya jujur. Saya katakan bahwa sahabat saya tadi menelepon.

Mendengar itu ekspresi suami saya sedikit berubah. Apalagi setelah saya cerita kalau sahabat saya itu menelepon tanpa sepengetahuan istrinya.

Tanggapan suami saya seperti ini. Sayang, bagaimana perasaanmu kalau misalkan suami kamu diam-diam menghubungi nomor perempuan lain yang dia sebut sebagai sahabat? Kalau memang sahabat, kenapa teleponnya harus sembunyi-sembunyi? Coba pikirkan perasaan istrinya?

Ah, saya tertohok. Setelah mencerna baik-baik perkataan suami saya putuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan sahabat saya itu.

Surat untuk Sahabat yang Kini Tinggal Kenangan

Hai Aliehs,

Lama tak berkabar. Lewat surat ini aku ingin menyapamu walau tak tahu apakah surat ini akan sampai padamu atau tidak.

Jika kau ingin tahu bagaimana kabarku. Aku baik. Aku sekarang telah menjadi ibu dari dua jagoan. Kau tahu dari dulu aku memang selalu memimpikan ingin punya anak laki-laki. Hanya karena semua saudaraku adalah perempuan, hehe.

Alhamdulilillaah, Tuhan mengabulkan permintaanku. Bagaimana denganmu? Meski tak pernah komunikasi tapi aku tahu saat ini kau telah menjadi ayah dari dua putri cantik yang imut nan jelita.

Tidak usah tanya aku tahu darimana? Zaman sekarang informasi apa sih yang tidak bisa diakses. Tinggal buka media sosial dan aku bisa tahu banyak hal tentang hidupmu yang sekarang.

Ah, tapi tenang saja. Aku tidak sejauh itu mau kepo kehidupanmu. Tahu bahwa kamu tengah hidup bahagia dengan keluarga kecilmu, itu sudah cukup.

Kau tahu, salah satu hal yang aku syukuri dalam hidup adalah mengenal dan menjadi sahabatmu. Terima kasih karena pernah mewarnai hari-hariku. Terima kasih atas semua kenangan manis yang pernah kau lukiskan untukku.

Maaf karena persahabatan kita tidak bisa berjalan seperti yang kita harapkan dulu. Sama sepertimu, tadinya aku juga yakin kita bisa menjalin persahabatan setelah menikah.

Ternyata keyakinan itu runtuh seketika kala menyadari bahwa tidak ada persahabatan lawan jenis (non mahram) yang bisa bertahan selamanya.

Maksudku, setelah menikah, rumah tangga kita adalah hal yang utama. Pasangan kita adalah orang yang harus kita prioritaskan. Ikatan suci itu yang harus kita jaga dan pertahankan dengan baik.

Aku memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi denganmu karena itu adalah untuk kebaikan kita, agar kita bisa sama-sama terhindar dari fitnah.

Lagipula bukankah kini kau telah menemukan sahabat sejatimu? Sosok yang hampir 24 jam selalu hadir mendampingimu. Dari baru bangun tidur hingga tidur kembali.  Yang setia menemanimu dalam suka dan duka.

Aku pun demikian.

Yah, kini aku menyadari bahwa sejatinya sahabat kita adalah pasangan kita sendiri. Pasangan yang kita pilih dan Tuhan tetapkan untuk kita, jodohnya kita, dengannyalah kita bisa menjalani persahabatan selamanya.

Itu saja yang ingin saya sampaikan lewat surat ini. Sekali lagi saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu atau tidak, karena saya tidak akan mengirimkannya. Semoga kau bisa menemukannya sendiri.

Demikian kutulis surat untuk sahabat yang kini tinggal kenangan. Kalau pun suatu hari surat ini bisa sampai padamu, kau tak perlu membalasnya.

Salam,

Dari Sahabatmu yang (pernah) kau panggil Sheila