7 Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Agar Tetap Waras

Bagaimana cara menjaga kesehatan mental ibu? Penting banget lho diketahui agar kita mampu menjalani peran sebagai ibu yang bahagia dengan mental yang sehat.

Sejak hidup berumah tangga saya menghabiskan lebih banyak waktu di rumah saja. Mulai dari masa masih berdua bareng suami hingga berempat dengan anak-anak.

That’s why waktu ada anjuran stay at home pas puncak-puncaknya pandemi 2020 lalu saya nggak terlalu pusing, karena dari sononya memang jarang ke luar rumah.

Walau begitu bukan berarti selama ini saya nggak pernah bosan dengan aktivitas rumahan yang itu-itu saja. Namanya bosan pasti ada, manusiawi lah.

Apalagi pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tidak bisa dibilang mudah. Iya, IRT memang kerjanya di rumah doang tapi eits jangan salah kira.

Pekerjaan IRT itu nggak ada habis-habisnya lho. Sampai-sampai waktu 24 jam dalam sehari rasanya nggak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan domestik.

Jangan dikira aktivitas seperti mencuci, bersih-bersih rumah, masak, jaga anak, melayani suami itu bukan pekerjaan.

Ayah yang bekerja di kantor masih mempunyai waktu libur, but ibu rumah tangga kapan liburnya?

Tengah malam, saat waktunya melepas penat pun kadang ia masih harus terbangun untuk menyusui bayinya yang kelaparan atau terjaga sepanjang malam demi menemani si bayi yang tetiba rewel.

Bukan hanya ibu rumah tangga saja. Ibu yang merangkap sebagai wanita karir pun punya pekerjaan yang tidak kalah berat. Selain sibuk dengan urusan di ranah publik, ia pun masih memiliki tugas mengurus suami dan anak-anaknya.

So far, masih menganggap tugas seorang ibu itu ringan? Kalau ringan nggak mungkin ya banyak ibu yang mengalami stres bahkan depresi. Namun faktanya seorang ibu memang rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

Ketika Ibu Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Ketika ibu mengalami gangguan mental

Jika ibu mengalami gangguan mental, apa yang terjadi? Tentu akibatnya sangatlah fatal. Anak-anak dan keluarga yang akan jadi korban.

Bukankah sudah berulang kali kita dengar kasus seorang ibu yang menyakiti bahkan membunuh anak kandungnya.

Saya yakin dan percaya tidak ada seorang pun ibu di dunia ini yang tega menyakiti apalagi sampai merengut nyawa anaknya sendiri.

Kalau si ibu sampai melakukan hal yang membahayakan diri dan anaknya berarti kondisi kejiwaannya memang lagi terganggu. Faktanya seperti itu, kan?

Motif di balik setiap kasus ibu yang membunuh bayinya adalah gangguan kesehatan mental. Si ibu melakukan perilaku keji tersebut karena ia sedang tidak waras.

Tentu kita tidak bisa membenarkan tindak kejahatan, apa pun motifnya, namun tidak adil juga rasanya kalau kita sampai menghakimi dan menyalahkan si ibu sepenuhnya.

Masalahnya, kita tidak tahu penderitaan seperti apa yang sudah dialami ibu tersebut hingga mengalami depresi berat yang membuatnya sampai menghabisi nyawa anak kandungnya.

Kasus depresi ibu yang berujung pada kematian anak ini memang tidak setiap saat terjadi, tapi sudah berkali-kali lho. Itu baru kasus pembunuhan yang terangkat ke publik, belum termasuk kasus anak yang kerap disakiti ibunya yang mengalami depresi.

Perbuatan menyakiti anak juga tidak bisa dibenarkan. Memang tidak sampai merengut nyawa tapi merengut kebahagiaan yang seharusnya dirasakan si anak di masa kecilnya.

Kesakitan yang ia dapatkan saat masih kanak-kanak itu akan membekas, membentuk luka yang menganga dan terbawa hingga dewasa. Anak akan mengalami trauma dan sudah pasti mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Bukan tidak mungkin, ketika dewasa dan berkeluarga ia akan memperlakukan anaknya dengan cara buruk seperti yang dialaminya di masa kecil dulu.

Sungguh, masalah kesehatan mental ini tidak bisa anggap sepele. Setiap ibu rentan mengalaminya, karena itu bukan hanya  kesehatan fisik, mental kita sebagai ibu juga harus benar-benar dijaga dengan baik.

Di tengah pekerjaan yang seolah tak ada habis-habisnya dan kelelahan yang seakan tidak berujung, seorang ibu harus tetap bisa menjaga kewarasan dirinya.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Agar Ibu Tetap Waras

ibu tidak boleh sakit

Pernah dengar ungkapan “seorang ibu nggak boleh sakit, ibu harus bahagia”. Sekilas ungkapan tersebut seperti sebuah tuntutan akan tugas seorang ibu namun kalau kita telusuri maknanya cukup dalam.

Bisa tebak kan apa yang terjadi kalau ibu sakit? Si ayah kewalahan, anak-anak tak terurus, rumah berantakan, pokoknya urusan rumah nggak ada yang beres deh. Itu kondisi umum yang terjadi bila ibu sakit.

Nah, kondisi rumah akan jauh lebih buruk lagi kalau si ibu dilanda masalah dan merasa tidak bahagia. Percayalah, kedamaian dan kenyamanan di rumah sangat bergantung pada suasana hati ibu.

Bila hati ibu ceria, semua anggota di rumah akan merasakan aura keceriaannya. Pun sebaliknya bila hati ibu mendung, meski tidak ditampakkan seisi rumah juga akan terasa gelap.

Demikian peran seorang ibu dalam rumah tangga. Sangat penting. Saking pentingnya sampai-sampai ibu dituntut harus selalu sehat dan bahagia. Jangan sampai mengalami gangguan mental.

Karena seperti yang sudah disinggung di atas, bila ibu mengalami stres bahkan depresi akibatnya bisa fatal sekali.

Bukan hanya menyebabkan kondisi rumah berantakan melainkan hancur berkeping-keping akibat tindakan di luar kesadarannya yang bisa saja melukai diri sendiri serta anak-anaknya.

Tentu kita tidak ingin hal buruk tersebut terjadi dalam rumah tangga kita, bukan? Lantas bagaimana sih cara menjaga kesehatan mental agar kita bisa tetap waras menjalani peran sebagai seorang ibu?

agar ibu tetap waras

Dekat dengan Tuhan

Orang yang mengalami gangguan mental seringkali dianggap kurang iman. Benarkah demikian? Benarkah kondisi psikis seseorang berkaitan erat dengan keimanannya?

Iman itu letaknya tersembunyi, di dalam dada manusia. Hanya Tuhan yang tahu keimanan hamba-Nya. Jadi bagaimana bisa kita men-judge seseorang yang menderita depresi itu pertanda ia kurang iman.

Lagipula bicara sakit itu tidak hanya menyoal fisik, setiap orang bisa saja mengalami yang namanya sakit psikis atau gangguan mental. Lantas apakah kita menganggap orang yang terserang penyakit fisik juga kurang iman? Tentu, konsepnya tidak demikian, bukan?

Seperti halnya kesehatan fisik, kita juga perlu menjaga kesehatan mental dengan baik. Umumnya kesehatan fisik perlu dijaga dengan memastikan tubuh mendapat asupan makanan yang bernutrisi, rajin olahraga, menghindari stres dan istirahat yang cukup.

Nah ada berbagai cara yang juga bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental.  Salah satunya adalah senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan.

Dalam Islam, ketika kita rajin mengingat Allah melalui dzikir, shalat maupun mentadabburi ayat-ayat-Nya dengan membaca atau mendengarkan Al-Qur’an niscaya dapat membantu menentramkan hati kita.

Begitu pula ketika diterjang badai rumah tangga yang begitu pelik, mendekatkan diri pada Tuhan bisa menjadi jalan ikhtiar kita agar tetap waras dalam menghadapi masalah seberat apapun itu.

Nikmati peran sebagai Ibu

Menjalani peran sebagai seorang ibu baik sebagai ibu rumah tangga maupun ibu pekerja memang tidak mudah. Tugas ini bahkan semakin berat dijalani jika kita tidak menikmatinya.

Sebaliknya akan terasa ringan kalau kita dapat menjalaninya dengan ikhlas dan bahagia. So,  jangan jadikan tugas seorang ibu sebagai sebuah beban tapi nikmatilah.

Ingat, tidak semua perempuan beruntung dapat menyandang peran ini. Di luar sana masih banyak perempuan yang galau dengan jodoh yang tak kunjung hadir, pun tidak sedikit pula perempuan yang telah hidup bertahun-tahun bahkan belasan tahun bersama pasangannya namun belum jua dikaruniai anak.

Bersyukurlah kita yang dianugerahi pasangan dan buah hati tercinta. Kehadiran mereka dalam hidup kita sungguh merupakan harta yang tidak ternilai harganya.

Ini yang perlu kita tanamkan dalam diri, agar bisa menikmati peran sebagai ibu dengan baik kita harus menyadari arti penting keluarga.

Jangan pendam masalah sendirian

Siapa bilang seorang ibu tidak boleh mengeluh? Kalau mulai merasa lelah atau capek dengan pekerjaan rumah tangga yang seolah tak ada habisnya, tak apa mengeluh. Manusiawi kok.

Ketika seorang ibu mengeluh terkait pekerjaannya bukan berati ia tidak bersyukur. Pasti ada maksud dibalik keluhannya itu. Mungkin ia sebatas mengeluarkan unek-unek atau karena ingin didengarkan atau ingin supaya suaminya peka dan mau sedikit membantu pekerjaannya di rumah.

Nah, justru bahaya jika ada ibu yang mengalami lelah fisik lalu ia tidak mengeluh. Apalagi bila dihimpit pula dengan berbagai masalah lalu memilih untuk diam. Bungkamnya itu sewaktu-waktu bisa menjadi bom waktu lho. Ini yang patut diwaspasdai.

So far, kalau mau tetap waras, lelah yang dirasakan atau masalah apa pun yang dihadapi jangan dipendam sendirian.

Berbagilah cerita pada orang yang kita percayai. Walau tidak mendapatkan solusi namun setidaknya dengan memiliki orang yang sudi mendengarkan bisa sedikit mengurangi beban di hati dan pikiran kita.

Menulislah

Termasuk cara terbaik menjaga kewarasan diri adalah dengan menulis. Untuk tips yang satu ini tidak perlu diragukan lagi, sudah banyak para ibu yang mengakui dan membuktikan sendiri bahwa menulis dapat menjadi self healing.

Saya pun pernah mengalami depresi paska menikah. Masih pengantin baru eh sudah kehilangan semangat hidup. Berbulan-bulan hidup yang saya jalani rasanya hampa banget. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali menulis di blog.

Alhamdulillaah manfaat yang saya rasakan dari menulis ini luar biasa sekali. Bukan hanya berhasil mengeluarkan saya dari penjara depresi tapi juga membawa keberkahan lainnya.

Lewat menulis saya akhirnya bisa punya penghasilan sendiri, dapat banyak teman sesama ibu-ibu yang juga memiliki hobi menulis dan yang terpenting dengan rutin menulis saya bisa tetap produktif walau hanya tinggal di rumah.

Nah, buat ibu-ibu yang ingin tetap waras, bolehlah mempertimbangkan tips yang satu ini. Menjadikan kebiasaan menulis sebagai salah satu upaya menjaga kewarasan diri.

Tulis saja apa yang kita pikirkan dan rasakan. Tulisan receh pun tak masalah. Kita bisa mulai menulis di jurnal atau buku harian untuk hal-hal yang sifatnya privasi.

Atau kalau mau menulis di blog juga boleh tapi jangan sampai umbar aib atau masalah rumah tangga ya.

Di blog kita bisa menulis seputar tips atau sharing pengalaman kita dalam mengasuh anak. Pastikan saja niatnya untuk berbagi sekaligus mengembangkan skill menulis.

Tentu akan ada rasa bahagia dan kepuasan tersendiri jika tulisan-tulisan kita menemukan pembacanya.

Luangkan waktu untuk diri sendiri

Setelah menikah terlebih setelah menjadi seorang ibu, waktu dengan diri kita akan terbatas. Bahkan hampir 24 jam waktu kita tersita untuk mengurus keluarga. Sampai-sampai kadang kita luput menyisihkan waktu untuk diri sendiri.

Padahal me time sangat penting karena merupakan salah satu bentuk self love yang dapat menghindarkan kita dari gangguan mental.

So, aktivitas me time ini jangan sampai terlewatkan. Sesibuk apa pun pekerjaan kita, tetaplah sisihkan waktu untuk diri sendiri, dengan melakukan berbagai aktivitas yang kita sukai.

Setiap ibu pasti punya cara untuk menikmati me time-nya. Entah itu dengan membaca, nonton film Korea, luluran dan lain sebagainya.

Saya sendiri termasuk tipe ibu yang suka ber-me time dengan nonton drakor. Menurut saya nonton drama dari Negeri Gingseng ini benar-benar bisa jadi hiburan banget.

Tanpa bermaksud membandingkan dengan sinetron dalam negeri, tapi yah memang kenyataannya rata-rata alur cerita drakor jauh lebih menarik untuk ditonton. Pun banyak pesan morilnya yang bisa kita petik.

Nah, sebelum nonton biasanya saya melipir dulu ke blog review drakor untuk mencari K-drama yang recommended. 

Soalnya ada buanyak sekali pilihan drakor, nggak mungkin juga saya sanggup nonton semuanya, hehe. Jadi saya pilah-pilahlah drakor yang menurut saya bagus berdasarkan review yang sudah saya baca.

Well, untuk saat ini saya baru menuntaskan serial Money Heast Korea yang hanya berjumlah 6 episode jadi cepat ditamatin. Selain itu saya lagi on going nonton drakor Eve, Anna, Alchemy of Souls 2022. Semua judul drakor yang saya sebutin itu recommended lho. Coba deh nonton. Seru! Lumayan bisa mengusir rasa suntuk.

Jauhi lingkungan toxic

Melangkah ke tips selanjutnya yang tidak kalah penting. Pastikan kita hanya dikelilingi dengan  orang-orang positif ya. Berada di lingkungan toxic hanya akan membuat mental kita semakin jatuh.

Mirisnya toxic itu biasanya datang dari orang-orang terdekat, termasuk dari kalangan para ibu. Bukannya saling mendukung, banyak ibu yang malah suka menyerang dengan memberi kritikan tajam terhadap gaya pengasuhan ibu lainnya.

Oleh sebab itu, misalkan ada keluarga, teman atau kerabat yang suka memberikan komentar pedas, sebaiknya dijauhi dulu. Termasuk bila itu orang tua atau saudara sendiri.

Terlebih bagi ibu baru yang rentan mengalami depresi paska melahirkan. Misalkan kurang mendapat support system dari keluarga ya sebaiknya jaga jarak dulu dengan mereka atau sebisa mungkin tidak memasukkan dalam hati kritikan tajam yang mereka lontarkan.

Memang agak susah jika yang dihadapi adalah keluarga sendiri tapi daripada kondisi mental kita semakin rapuh akan lebih baik jika kita mengambil jeda untuk tidak bertemu dengan mereka sementara waktu sampai kondisi kita benar-benar pulih.

Hal ini juga berlaku dengan interaksi kita di media sosial. Hindari berteman atau mengikuti akun-akun yang kehadirannya di timeline medsos kita hanya menyebar racun.

Setidaknya dengan berada di lingkungan positif, pikiran kita pun akan positif dan itu sangat bagus untuk kondisi psikologis kita.

Istirahat yang cukup

Last but not least, tidak ada ibu yang sempurna. Semua ibu pasti pernah berbuat khilaf. Karena itu tidak usah memaksakan diri menjadi ibu yang idealis.

Ibu yang ingin keadaan rumah selalu bersih, melarang anak bermain kotor, menuntut si kecil harus begini, begitu dan lain sebagainya.

Please, tidak usah memporsir tenaga demi menjadi ibu yang idealis. Jujurlah pada diri sendiri, kalau merasa lelah, istirahatlah.

Tak apa rumah dalam keadaan berantakan, bisa dibereskan setelah tenaga pulih lepas beristirahat. Tak masalah sesekali libur dari beberapa pekerjaan rumah dan pergi rekreasi atau makan bareng keluarga di luar sekadar untuk melepaskan penat.

Ya, jangan sampai kita mengalami lelah fisik karena larinya juga akan ke psikis. Kalau tubuh sudah merasa sangat lelah ditambah lagi dengan kejenuhan yang melanda, maka bisa dipastikan kondisi psikis akan terganggu. Karena itu agar fisik dan mental tetap sehat seorang ibu harus mendapatkan istirahat yang cukup.

Penutup

tidak ada ibu yang sempurna

Sebagai penutup, sekali lagi saya ingin katakan bahwa tidak ada ibu yang sempurna. Oleh karenanya, tidak perlu memaksa diri menjadi ibu yang ideal.

Tentu akan lebih baik kalau kita menjadi ibu yang bahagia, ibu yang waras, ibu yang dapat mendidik anak-anak dengan baik dan tidak menorehkan luka di hati mereka.

Menjadi ibu yang seperti itu memang tidak mudah, terlebih kalau kita sendiri kurang mendapat dukungan dari pasangan maupun keluarga.

Namun hal tersebut tidak lantas menjadi penghalang, sekali pun tidak ada yang mendukung kita harus tetap berusaha untuk menjadi ibu yang waras demi anak-anak, demi keluarga tercinta.

Semoga tips di atas bermanfaat ya. Yuk, jadi ibu yang bahagia 😀

Satu pemikiran pada “7 Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Agar Tetap Waras”

  1. Ya Allah, ini bener sekali.
    Rasanya ujian berat perempuan tuh kalau menyangkut masalah perekonomian dan kepercayaan.
    Perlu memahami diri sendiri untuk terus berterima kasih dan mengapresiasi hal-hal kecil yang sudah kita lakukan. Dan penting juga untuk peka terhadap lingkungan bila ada sahabat yang sedang membutuhkan bantuan. minimal mendengarkan keluh kesah.

    Semoga dengan me time yang tepat, kita semua bisa release kesedihan, kemarahan dan kembali menjadi ibu bahagia yang menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga lainnya.

    Terimakasih atas rekomendasi blog drakor-nya untuk me time.
    Semoga yang gak sempet nonton, bisa baca ulasannya di blog lendyagassi aja, ehhehhe..

    Balas

Tinggalkan komentar