Kamar Kenangan

Cara terbaik menjaga kenangan adalah dengan menulis

Beranda » Arti Sukses dan Bahagia bagi Ibu Rumah Tangga

Arti Sukses dan Bahagia bagi Ibu Rumah Tangga

Arti sukses dan bahagia menurut kalian apa sih? Apakah orang yang sukses sudah pasti bahagia atau apakah bahagia merupakan pertanda kesuksesan seseorang?

Sukses dan bahagia memang sering dikaitkan namun nyatanya setelah kita telusuri keduanya memiliki makna yang berbeda.

Menurut KBBI arti kata sukses adalah berhasil, beruntung sedangkan bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Dari pengertian tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa sukses menyangkut apa yang kita lakukan dan raih dalam hidup sedangkan bahagia sendiri lebih pada apa yang kita rasakan.

Nah, pertanyan yang muncul kemudian apakah kesuksesan itu menjamin kebahagian seseorang? Saya yakin kalian akan menjawab TIDAK.

Sukses tidak Menjamin Kebahagiaan

Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” -Albert Schweitzer

Jika mendengar kata sukses apa yang terbetik di benak kalian?

Kaya, jabatan tinggi, kuliah di luar negeri, lulus CPNS, punya rumah mewah dan lain sebagainya.

Demikianlah orang memandang kesuksesan, kebanyakan hanya melihat pencapaian dari sisi materi saja.

Makanya tidak heran kalau pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sering dipandang sebelah mata.

Perempuan yang walau sudah sekolah tinggi-tinggi tapi kalau pekerjaanya cuma berkutat di rumah, ngurus suami, anak-anak serta urusan domestik tetap saja dianggap tidak sukses, bahkan banyak yang menyayangkan dan memberi nyinyiran.

Sayang sekali ya sudah kuliah sampai S2 eh setelah nikah kerjaannya malah cuma di sumur, dapur dan kasur”

“Sarjana kok jadi ibu rumah tangga?”

“Kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga ngapain sekolah tinggi-tinggi?”

Perempuan yang sukses itu kayak Audy Mayunda, bisa kuliah sampai di luar negeri. Atau kayak Nia Ramadani yang hidupnya di kelilingi kemewahan.

Iya, di mata kebanyakan orang ibu rumah tangga memang bukan pencapaian yang patut dibanggakan. Apalagi kalau cuma jadi ibu rumah tangga biasa yang nggak punya suami tajir kayak Ardi Bakrie.

Meski demikan tidak sedikit lho perempuan yang menemukan kebahagiaannya di rumah.

Ya mungkin kamu juga sudah sering dengar atau baca pengalaman para perempuan yang sebelumnya adalah wanita karir. Di kantor mereka memiliki jabatan penting dan tentunya punya penghasilan yang tinggi.

Namun usai menikah, terlebih setelah dikaruniai buah hati mereka sendiri yang memilih melepaskan karirnya demi dapat memaksimalkan peran sebagai seorang istri dan ibu di rumah.

Tidak ada penyesalan sedikit pun yang mereka rasakan ketika memutuskan resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Justru mereka lega dan bahagia karena akhirnya bisa membersamai anak-anak di rumah sepanjang waktu.

Bukan berarti perempuan yang masih mengejar karirnya di luar rumah tidak bahagia. Ini hanya masalah pilihan.

Setiap orang tentu punya mimpi dan target hidup masing-masing. Ketika dia berhasil menggapainya itulah kesuksesan.

Tidak semua perempuan ingin menjadi wanita karir, begitupula sebaliknya Jadi seharusnya kita tidak bisa memandang kesuksesan dari satu sisi saja.

Iya, ada lho perempuan yang memang punya mimpi menjadi ibu rumah tangga? (nunjuk diri sendiri)

Maka bagi perempuan ini, sukses itu ketika mimpinya untuk menjadi ibu rumah tangga terwujud. Dan sejatinya kesuksesan adalah ketika kita bisa menjalani hidup dengan bahagia.

Sebab kenyataannya ada banyak sekali orang sukses secara finansial dan popularitas tapi hidupnya hampa. Bahkan tidak sedikit yang mengalami depresi hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Tragis sekali, hidup mereka sudah bergelimang harta, tapi kenapa mereka tidak bisa menikmatinya?

Seperti kasus yang baru-baru menjerat Nia Ramadani dan suaminya juga sangat mencengangkan. Selama ini di mata masyarakat mereka adalah pasangan yang terbilang sukses. Hidup mewah, punya popularitas, apa lagi yang kurang?

Ya, dari layar kaca pasangan fenomenal ini tampak sebagai pasangan bahagia namun siapa sangka mereka sendiri masih mencari kebahagiaan di luar dengan mengonsumsi barang terlarang.

Kalau sudah begitu, apalah artinya kesuksesan jika hidup tidak bahagia.

Bahagia berasal dari hati

Berbicara tentang bahagia berarti  bicara mengenai hati, perasaan. Kesuksesan seseorang bisa kita lihat tetapi tidak dengan kebahagiaan. Itu sebabnya orang yang sukses belum tentu bahagia

Di luar dia memang tampak bahagia tapi siapa yang bisa lihat hatinya, siapa yang tahu perasaannya? Apakah dia bahagia atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu benar perasaannya.

Bahagia itu ada dalam diri kita, jadi nggak perlu susah payah cari di luar. Kita juga nggak mesti harus ngejar kesuksesan duniawi untuk bisa merasakan bahagia.

Dari hal-hal kecil dan sederhana pun kita bisa kok bahagia. Tugas kita tinggal bagaimana caranya memunculkan perasaan itu?

Ingat, kebahagiaan tidak bisa dibeli. Iya, Uang, jabatan, popularitas, semua itu tidak bisa membeli kebahagiaan. Jadi temukan sendiri caramu untuk bahagia.

Sukses dan bahagianya ibu rumah tangga

Sebagai ibu rumah tangga, kesuksesan dan kebahagiaan saya ada di rumah. Ya, saya adalah satu dari sekian perempuan yang punya mimpi setelah sarjana ingin jadi ibu rumah tangga.

Lucunya, ide tentang mimpi yang sederhana itu baru muncul lepas wisuda. Ijazah yang bisa saya gunakan untuk mendaftar menjadi guru sudah di tangan, tapi saya tiba-tiba malah bercita-cita ingin menjadi ibu rumah tangga.

Alhamdulillah mimpi tersebut akhirnya terwujud selang sekitar 2,5 tahun setelah saya lulus kuliah.

Itu sebabnya saya tidak merasa berat melepaskan profesi saya sebagai tenaga pengajar setelah menikah karena tujuan dan target hidup yang ingin saya capai bukan bekerja di sekolah, tetapi di rumah, sebagai istri, ibu dan guru bagi anak-anak saya.

Itu juga yang menjadi alasan mengapa saya tidak berminat ikut pendaftaran CPNS meski orang tua saya sangat mengharapkan agar anak-anaknya bisa terangkat menjadi bagian dari ASN

Saya hargai apa yang menjadi harapan orang tua saya, namun saya juga punya hak untuk menentukan apa yang ingin saya jalani.

Kalau pun misal saya ikut seleksi CPNS dan ditakdirkan lulus, kabar baik tersebut tidak lantas membuat saya bahagia.

Bahkan bisa saja saya merasa terbebani karena tujuan saya mendaftar PNS bukan atas keinginan sendiri melainkan hanya untuk memenuhi keinginan orang tua.

Di mata orang-orang tentu saya akan dianggap sukses karena berhasil menjadi PNS namun tidak demikian dengan saya. Saya tidak menganggap itu sebuah kesuksesan, bagaimana bisa sukses kalau pekerjaan tersebut tidak membuat saya bahagia?

Di satu sisi saya memang tidak ingin mengecewakan orang tua saya yang sudah bersusah payah dan berjuang sekuat tenaga untuk menyekolahkan saya tinggi-tinggi namun di sisi lain saya juga tidak ingin mengecewakan diri saya sendiri.

Saya harus mencintai diri sendiri agar bisa bahagia dan membahagiakan orang-orang terdekat di sekitar saya. Karena itu saya lebih memilih untuk menemukan kebahagiaan saya sendiri.

Kebahagiaan saya ada di rumah dengan memakai daster, menemani anak-anak bermain, memasakkan suami dan anak-anak makanan yang enak, mendengar suami memuji masakan saya, melihat anak-anak makan dengan lap, mememandang wajah mereka kala terlelap dan yah hal-hal yang sesederhana itu saja sudah cukup menyeruakkan rasa bahagia di hati saya

Aktivitas saya sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik memang terkesan monoton dan melelahkan tapi sungguh saya menikmatinya walau sering mengeluh kecapean juga sih, hehe

Nah, kejutannya setelah saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga yang notabene nggak punya penghasilan apa-apa selain dari gaji suami, Allaah yang Maha Baik masih mengalirkan rezeki untuk saya lewat jalan yang tidak disangka-sangka.

Ya, siapa sangka hobi saya yang dulunya doyan curhat di blog kini berbuah penghasilan.

Selain di rumah, saya juga menemukan kebahagiaan saya di blog yang saya anggap pula  sebagai rumah di dunia maya.

Now , blogger is my passion and i think tidak ada yang lebih membahagiakan selain bekerja sesuai passion.

Dengan menjadikan aktivitas ngeblog sebagai pekerjaan sampingan, saya akhirnya bisa jadi ibu rumah tangga yang tetap produktif di rumah, yang bisa dapat penghasilan dari usaha sendiri tanpa bergantung pada gaji suami semata.

And i hope, suatu hari nanti saya bisa membuktikan ke orang tua kalau jalan yang saya pilih tidak salah. Bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga pun saya bisa meraih kesuksesan dengan cara saya sendiri.

Terakhir, sebelum menutup postingan ini saya ingin kembali mengutip kata Albert Schweitzer.

Sukses bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Jika Anda menyukai apa yang Anda lakukan, Anda akan sukses

Demikianlah arti sukses dan bahagia di mata ibu rumah tangga seperti saya yang juga merupakan seorang blogger. Kalau bahagia dan sukses versi kamu seperti apa? Bagikan yuk di kolom komentar :

Siska Dwyta

Siska Dwyta. Blogger asal Gowa, Sulawesi Selatan. Ibu dari dua putra yang doyan menulis di blog. Baginya cara terbaik menjaga kenangan adalah menulis. Dengan begitu kenangan hidupnya akan abadi.

16 komentar di “Arti Sukses dan Bahagia bagi Ibu Rumah Tangga

  1. betul banget orang sukses belum tentu bahagia ya, meski kategori sukses orang beda-beda. Baca ini saya jadi bayangin jadi ibu rumah tangga kayak gimana, soon deh

  2. Semua orang pasti memiliki tingkat sukses dan bahagia masing-masing. Kita tidak bisa menyamaratakan. Apalagi berusaha membandingkan.

  3. Kesuksesan memang tidak bisa diukur dari satu sisi saja. Demikian pula kebahagiaan. Tiap-tiap orang memiliki tolok ukur kesuksesan dan kebahagiannya masing-masing.
    Menjadi ibu rumah tangga adalah profesi yang membutuhkan kecerdasan tersendiri, tidak ada sekolahnya kata orang-orang. Sukses terus ya … baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai bloger.

  4. Sukses dan bahagia menurut saya adalah menjadi damai dan tenang serta menimati kehidupan bersama orang yang mencintai kita apa adanya, simple tapi susah banget didapatkan

  5. Sukses bukan kebahagiaan ini yang baru aku sadari.
    Kebahagiaan sejatinya adalah diri kita sendiri yang mempu bersyukur atas segala nikmat dan pencapaian yang selama ini kita lakukan.
    Bukan untuk orang lain, bukan untuk siapa…tapi hanya untuk diri sendiri.

    Kontemplasi yang bagus sekali kak.

  6. Kalau bahagia versi ibu ku sih bisa melihat anak-anaknya sehat itu katanya sudah bahagia, kalau sekarang karena anak2nya udah gede2 bahagianya kalau anak2nya sudah pada lulus sekolah & kuliah

  7. Standar kesuksesan dan kebahagian orang memang beda-beda kak, apalagi bagi seorang Ibu Rumah Tangga yang bisa full time bersama keluarga terutama di masa tumbuh kembang anak. Menikmati proses selain menjadi Ibu Rumah Tangga tanpa meninggal passion juga sebuah kesuksesan dan kebahagian juga menurut saya.

  8. Setuju pakai banget!

    “Sukses bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Jika Anda menyukai apa yang Anda lakukan, Anda akan sukses!”

    Aku juga percaya definisi bahagia, setiap orang itu unik dan berbeda!

    Mari saling menghormati pilihan bahagia!

    Jangan pernah mengklaim bahagiamu akan membuat orang lain juga bahagia!

    Atau mengklaim bahagia kita adalah versi terbaik, terindah dan segalanya!

    Setiap orang punya definisi bahagia sendiri.

    Sekali lagi, mari saling menghormati

  9. Semoga dimudahkan ya langkahnya. Jadi ibu rumah tangga bukan berarti kita tak bisa berkarya dan berprestasi, temukan passion, bidang yang kita sukai dan tekuni maka kita akan melesat..

  10. Naah iniii, kalo bisa bahagia, itu baru sukses :D. Aku setujuuuu

    Pas msh kerja, aku ga anggab juga itu sukses. Lah wong tertekan tiap hari Ama tugas2 nya :D. Alasanku kluar juga Krn udh ga cocok Ama prinsip manajemen . Banyak temen yg menyayangkan, katanya ntr aku ga bisa traveling lagi dll . Tapi buatku, kluar Dr kantor itu, dan full time di rumah malah bikin happy. Ga pusing, ga stress. Bisa ngelakuin semua kegiatan yg bikin aku bahagia.

    Rezeki mah bisa dicari melalui suami. Tp kebahagiaan itu susah didapet :D.

  11. Bahagia itu tanggungjawab masing-masing & lebih baik untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

    Cukup dengan membandingkan diri sendiri di masa lalu dengan diri sendiri di masa sekarang, InsyaAllah jadi banyak bersyukur 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *